Pengikut

Jumat, 17 November 2023

Review Buku Knowing Your Personality Karya Desy Rachmawati

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat datang di Augina Putri’s Blog. Kali ini aku akan mengulas atau mereview buku non fiksi yang baru selesai kubaca yaitu Knowing Your Personality. Berikut foto bukunya:



Buku Knowing Your Personality ditulis oleh Desy Rachmawati dan diterbitkan Penerbit Brilliant. Punyaku ini terbitan tahun 2023. Buku ini memiliki jumlah halaman sebanyak 290 dan tergolong sedang ketebalannya. Genre bukunya non fiksi self-improvement atau pengembangan diri.

 

Buku Knowing Your Personality berisi tentang mengetahui kepribadianmu sendiri. Mulai dari kepribadian diri, kemampuan atau kecerdasan yang dimiliki, mengelola waktu, menghadapi masalah, pertemanan, hingga percintaan juga ada. Dikemas dengan berbagai tes kepribadian yang beragam macamnya sehingga menarik dan menyenangkan. Apalagi ada tes MBTI dan kokologi juga. Tes gambar memilih salah satu benda yang bisa menggambarkan kepribadian juga ada. 

 

Buku ini menurutku lengkap banget. Mulai dari penjelasannya, panduan penilaian tesnya, dan jenis-jenis tesnya lengkap semua. Penggunaan gaya bahasa yang santai dan pemilihan katanya baik sehingga pembaca buku ini akan merasa betah membacanya. Pemilihan bentuk huruf dan ukurannya juga bagus. Apalagi ada ilustrasi yang lucu.

 

Saat mengerjakan tes-tes kepribadian buku ini tuh rasanya aku semakin mengenali diriku sendiri. Banyak sekali yang akurat dengan diriku hasilnya. Aku juga menyadari gaya cintaku dan tipe MBTIku apa. Meskipun di tes lain hasilku jadi ISTJ, tapi di buku ini aku masih INFJ.

 

Buku Knowing Your Personality ini kudapatkan dari giveaway @klubbukunarasi dan @brilliantbooksofficial. Kalau teman-teman online yang suka non fiksi genre pengembangan diri ingin membeli buku ini, linknya sudah kutaruh di hl story Instagramku @nadya_donna judulnya link Shopee. Kalian juga bisa membeli buku ini di Shopee Brilliant Books Official atau Solusibuku.

 

Sekian postingan kali ini.

Sampai bertemu insyaallah di postingan selanjutnya.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

 

 


Jumat, 20 Oktober 2023

Review Buku Stop Mempersulit Diri 60 Cara Menikmati Hidup yang Lebih Sederhana Karya Diyan Yulianto

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat datang teman-teman online pembaca blog Augina Putri’s Blog.

Kali ini aku akan mereview buku non fiksi yang baru selesai kubaca yaitu Stop Mempersulit Diri 60 Cara Menikmati Hidup yang Lebih Sederhana. Berikut foto bukunya:


Buku Stop Mempersulit Diri 60 Cara Menikmati Hidup yang Lebih Sederhana ditulis oleh Diyan Yulianto dan diterbitkan Penerbit C-Klick Media tahun 2021. Buku ini memiliki jumlah halaman 166 tapi di Goodreads 160. Tergolong buku yang tipis ketebalannya. Genrenya buku non fiksi pengembangan diri atau self-improvement.


Buku  Stop Mempersulit Diri membahas tentang cara menikmati hidup yang lebih sederhana. Padahal sering sekali manusia yang mempersulit dirinya sendiri atau membuat hidup jadi tidak sederhana. Hal itu karena berawal dari pikiran manusianya. Apabila terjadi seperti itu, maka akan jadi rumit. Oleh karena itu, perlu cara menikmati hidup yang lebih sederhana di dunia yang serba cepat dan penuh masalah ini. 


Buku ini menurutku cukup lengkap cara-caranya. Mulai dari cara menerima hal-hal yang tidak disukai dan mengatasinya, menjadikan pribadi yang lebih bersyukur atau menerima takdir, melakukan hobi atau istirahat, serta memulai berbagai kebiasaan baik dalam hidup seperti olahraga dan bangun pagi juga menjaga kesehatan mental. Terdapat quotes dan juga ilustrasi yang menarik. Gaya bahasanya juga ga terlalu formal jadi ya lebih santai saat membacanya. 


Beberapa kalimat yang kusuka dari buku ini adalah sebagai berikut: 
- "Kita semua berjalan dengan tempo yang tidak sama. Dan, itu tidak apa-apa." Yulianto (2021, hlm. 19). 
- "Mungkin belum rezeki. Dan, rezeki dari Allah Swt. tidak akan pernah tertukar." Yulianto (2021, hlm. 25). 
- "Jadikan media sosial sebatas saluran hiburan, bukan sebagai patokan moral." Yulianto (2021, hlm. 44). 
- "Menulis, sebagaimana berbicara, ibarat mengeluarkan muatan yang memenuhi kepala." Yulianto (2021, hlm. 49). 
- "Sering kali, kita membeli barang-barang karena emosi, bukan karena fungsi." Yulianto (2021, hlm. 64). 
- "Sejatinya, hidup itu sederhana, tetapi kita sendiri yang membuatnya rumit dengan terlalu berfokus pada mendapatkan bukannya memberi." Yulianto (2021, hlm. 95)
- "Jangan mencemaskan sesuatu yang di luar kendali kita, itu sia-sia." Yulianto (2021, hlm. 113). 
- "Ayo melambat daripada kebanyakan "sambat"." Yulianto (2021, hlm. 151). 

Buku ini kurekomendasikan untuk teman-teman online yang suka membaca buku non fiksi genre pengembangan diri.

 

Sekian ulasan buku dalam postingan ini.

Semoga bisa bertemu di postingan selanjutnya.

Wassalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh.

#mulaimenulisdiblog



Senin, 25 September 2023

Review Novel Prelude: Nada Rahasia Cinta Karya Sam Umar

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 


Selamat datang teman-teman online pembaca blog Augina Putri's Blog. 


Kali ini aku akan mereview novel yang baru selesai kubaca yaitu Prelude: Nada Rahasia Cinta. Berikut foto bukunya: 


Novel Prelude: Nada Rahasia Cinta ditulis oleh Sam Umar dan diterbitkan teen@noura, Lini Remaja Penerbit Noura Books PT Mizan Pustaka tahun 2014. Novel ini memiliki jumlah halaman sebanyak 288 halaman. Tergolong buku yang sedang ketebalannya. Genre bukunya fiksi novel remaja. 


Novel Prelude: Nada Rahasia Cinta bercerita tentang Tina, seorang mahasiswi kuliah musik di Leipzig yang mempunyai impian untuk menyaksikan Festival Bach. Dia juga mempelajari alat musik selo dari idolanya yang juga dosennya, Maria Tan. Tina juga berteman dekat dengan Hans, seniornya yang anak band. Tina ingin mengikuti audisi Festival Bach dengan membawakan Prelude dari Cello Suite No. 1.


Novel ini menurutku cukup bagus bagi yang suka musik klasik. Karena tokohnya juga suka Bach dan tertarik mengikuti festivalnya. Gaya bahasanya sederhana dan mudah dipahami juga. Menariknya ada ilustrasinya juga di setiap bab dan beberapa bagian penting dalam cerita, jadi bisa terbayang lah ya tokoh-tokohnya seperti apa. Diksinya bagus. 


Blurb: 

Bach Festival-Festival Musik Klasik

Sesuatu memang harus diungkapkan supaya enggak ada rasa sakit ...

Ada dua impian Tina. Kuliah musik di Leipzig dan menyaksikan Festival Bach. Satu per satu impiannya terwujud. Dia pun belajar selo dengan Maria Tan, pemain selo profesional idolanya. Dia juga dekat dengan Hans, seniornya yang jago main keyboard. 


Dan saat musim panas menjelang, Tina semakin bahagia. Akhirnya ... Festival Bach! Tina memilih Prelude dari Cello Suite No. 1 untuk audisi festival. Dan ternyata, karya inilah yang menguak rahasia-rahasia-tentang siapa sebenarnya Maria Tan, juga tentang perasaan Hans yang sesungguhnya ....


Beberapa kalimat yang kusuka dari novel ini adalah sebagai berikut:

- "Berburu buku di toko buku bukanlah pekerjaan mudah. Kita bisa saja terperangkap di sana selama berjam-jam." Maria Tan (dalam Umar, 2014, hal. 8)

- "Bila kau sudah mendedikasikan hidupmu pada pekerjaan, maka terkadang kau harus rela jauh dari keluargamu." Maria Tan (dalam Umar, 2014, hal. 54)

- "Enggak ada pencapaian yang gemilang bila enggak ada pengorbanan." Ayah Tina (dalam Umar, 2014, hal. 72)

- "Andaikan bahasa Indonesia juga membedakan kata ganti untuk laki-laki dan perempuan." Tina (dalam Umar, 2014, hal. 83)

- "Kalau aku boleh kasih saran, ikuti saja kata hatimu. Jangan banyak pertimbangan. Biarkan hatimu yang menentukan." Lucas (dalam Umar, 2014, hal. 130)


Meskipun novel ini genrenya novel remaja, tapi bisa juga kok dibaca oleh orang dewasa. Banyak pelajaran tentang kehidupan dan musik. Novel ini kurekomendasikan untuk teman-teman yang suka baca novel dengan genre slice of life dan musik.


Oh iya, novel ini sedang kujual dari koleksi pribadiku. Bisa dibeli seharga 20 ribu rupiah belum dengan ongkir. Pengiriman dari Bandung via JNE. Tertarik beli? bisa dm Instagramku di @nadya_donna, ya. :) 


Sekian dulu review kali ini. 

Sampai bertemu insyaallah di postingan selanjutnya. 


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 



Sabtu, 26 Agustus 2023

Review Buku The Art of Being Positive Karya Husna Widyani

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat datang teman-teman online pembaca blog Augina Putri’s Blog.

Kali ini aku akan mereview buku non fiksi yang baru selesai kubaca yaitu The Art of Being Positive. Berikut foto bukunya:


Buku The Art of Being Positive ditulis oleh Husna Widyani dan diterbitkan Andaliman Books tahun 2021. Buku ini memiliki jumlah halaman sebanyak 302 halaman. Tergolong buku yang sedang ketebalannya. Genre bukunya non fiksi pengembangan diri atau self-improvement.

 

Buku The Art of Being Positive membahas tentang berpikir positif. Mulai dari menjelaskan tentang kekuatan pikiran, mindfulness, membentuk kebiasaan berpikir, mengenali diri sendiri, hingga mencapai pikiran yang bahagia dijelaskan semua dalam buku ini. Selain itu juga terdapat pula pikiran negative dan dampaknya pada kita seperti apa.

 

Buku ini menurutku cukup lengkap ya pembahasannya. Terdapat contoh kisah juga dan tips-tips serta rangkuman babnya. Ilustrasi dalam sampul depannya cukup baik. Pemilihan warna juga baik. Hanya saja dalam buku ini masih terdapat beberapa saltik atau typo, seperti ‘sebababnya’ seharusnya ‘sebabnya’ yang terdapat dalam buku ini di halaman 134, dan ‘benama’ seharusnya ‘bernama’ di halaman 226. Diksinya cukup baik.

 

Beberapa kalimat yang kusuka dari buku ini adalah sebagai berikut:

       -  “Tidak ada sesuatu yang buruk dan baik, pikiranmulah yang menciptakannya.” Hamlet (Widyani, 2021, hlm. 25)

-       “Ketika kita berpikir positif, maka alam bawah sadar akan membantu mewujudkan pikiran positif tersebut." Widyani (2021, hlm. 27)

-       “Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran baik, dan seseorang yang memiliki pikiran baik mendapatkan kenikmatan dari hidup.” Nursi (Widyani, 2021, hlm. 85)

 

Buku ini kurekomendasikan untuk teman-teman online yang suka membaca buku non fiksi genre pengembangan diri.

 

Sekian ulasan buku dalam postingan ini.

Semoga bisa bertemu di postingan selanjutnya.

Wassalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh.

 


Selasa, 04 Juli 2023

Review Novel Chicklit "Beauty Case" - Icha Rahmanti

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Selamat datang di Augina Putri's Blog. Kali ini aku akan mengulas novel berbentuk chicklit. Apa itu chicklit? Singkatnya adalah jenis literasi yang ditujukan untuk perempuan dewasa usia 20-30an dan ceritanya berfokus pada masalah karir, percintaan, dan kehidupan di kota modern. Nah novel ini berjudul Beauty Case. Berikut foto bukunya:


Novel Beauty Case merupakan novel yang tergolong chicklit, memiliki kisah seorang perempuan dewasa bernama Nadja dengan permasalahan cinta, karir, dan kehidupan di Jakarta, terutama masalah kecantikan. Nadja bersaing dengan Dania, seorang model cantik, untuk mendapatkan cinta Budiarsyah Nasution, cowok "penting". Novel ini menceritakan bagaimana Nadja menghadapi permasalahan cintanya dan juga menyadari bahwa dunia ini adalah kontes kecantikan sesungguhnya. Novel Beauty Case ditulis oleh Icha Rahmanti dan diterbitkan Penerbit GagasMedia tahun 2005. Menurut Goodreads, novel ini memiliki jumlah halaman sebanyak 288 halaman. 


Novel ini ilustrasinya bagus untuk sampul halaman depannya dan setiap selesai bab terdapat artikel majalah perempuan yang membahas tentang kecantikan. Pemilihan warna pada bagian sampul buku, artikel, dan sampul belakang bukunya juga bagus. Gaya bahasanya gaul karena disesuaikan dengan kisah dan jenis novelnya, mengandung gaya Jaksel (bahasa Indonesia campur bahasa Inggris), serta terdapat beberapa kata kasar, untuk yang tidak terbiasa dengan kata kasar mungkin agak terkaget-kaget atau kesal saat sedang membaca novelnya seperti aku. Wkwkwk. Penulisan paragrafnya berbeda jaraknya, ada yang rapi dan ada yang berjarak lebar untuk adegan atau kutipan tertentu. Penulisan kalimat bahasa Inggrisnya menurutku sih perlu ditulis miring. Oh ya, banyak juga kata-kata yang jleb di novel ini sehingga baik menurutku diksinya. Di beberapa adegan juga diselipkan humor. Penggambaran latar dan karakter tokohnya bagus dan rinci. Uniknya novel ini salah satunya adalah aku menemukan namaku sendiri di novel ini. Wkwkwk. 


Blurb:

Nadja Sinka Suwita seorang perempuan mungil yang smart, fun, dan optimis dalam melihat segala sesuatu. Apalagi ketika Obi, sahabat Nadja, memperkenalkannya dengan Budiarsyah Nasution, cowok "penting" yang membuat Nadja semakin optimis. Sampai suatu hari, Nadja harus menghadapi kenyataan bahwa dia bersaing dengan seorang perempuan MAHA CANTIK, MAHA INDAH slash model, DANIA SOEDJONO, untuk mendapatkan cinta Budi --- Nadja mulai mempertanyakan sikap optimisnya. Namun, Nadja mulai menyadari bahwa dunia ini adalah ajang beauty contest yang sesungguhnya ... 

Is it always like that? Does beauty still rule? Apa yang akan dilakukan Nadja? Menyerah? Atau "berjuang" melawan kekuatan kecantikan maha dahsyat Dania Soedjono yang ternyata "dijaga" ketat oleh ksatria pengagum setianya --- Max? Bisakah Nadja membuktikan bahwa beauty no longer RULES?


Beberapa kalimat yang aku suka dari novel ini adalah sebagai berikut:

"Bukannya latah dan sok gaya kalau aku merasa terkena sindrom quarter life crisis. Jujur, memang aku mengalaminya. Terutama untuk masalah finansial. Aku sangat merasa insecure dengan kondisi finansialku, karena nggak punya pendapatan tetap tiap bulannya." Nadja (Rahmanti, 2005, hal. 35)

"Kalau belanja itu jangan impulsif! Bikin list dong!" Nasehat favorit Kak Shana buat aku." Nadja (Rahmanti, 2005, hal. 36)

"Ayo, dong, mulai rajin nabung, jangan belanja melulu. Jangan jadi shopaholic gitu, ah! Lihat, tuh, Kak Shana." Ini nasehat favorit Mama kalau sedang menelepon aku. " Nadja (Rahmanti, 2005, hal. 36)

"Kalau menurut Kak Shana, masalah terbesar finansialku adalah I don't create a good financial plan." Nadja (Rahmanti, 2005, hal. 37)

"Some people said that beauty is in the eyes of the beholder, beauty adalah tentang attitude dan inner beauty ... setiap perempuan itu terlahir cantik, blablabla... banyak sekali definisi tentang kecantikan...." Nadja (Rahmanti, 2005, hal. 129)

"Things always happen when you least expected." - from GALS-" Bad Day's First Aid" Rahmanti (2005, hal. 177)

"Nah, sorry kalau gue lancang, tapi menurut gue, kebanyakan orang jadi boros dan beli hal-hal nggak perlu karena untuk muasin ego doang. Untuk membuktikan sesuatu, mungkin sama trophy-nya dia, atau dia kepingin lebih menarik seperti piala. Semakin bersinar, semakin menantang dan penting, kan?" Max (Rahmanti, 2005, hal. 234)

"... tantangan sebetulnya adalah mengalahkan ego diri sendiri." Max (Rahmanti, 2005, hal. 235)

"Try to seek beauty from something unseen." Max (Rahmanti, 2005, hal. 262)

"...kita nggak pernah bisa 100 % mengontrol apa yang akan terjadi dalam hidup kita. ... So, all we can do is... do our best." Nadja (Rahmanti, 2005, hal. 277)

Novel ini kurekomendasikan untuk teman-teman online yang perempuan dewasa dan juga menyukai genre fiksi romantis dan kehidupan. Oh iya kalian bisa mendapatkan novel ini dengan cara beli punyaku, harganya 20 ribu belum ongkos kirim, pengiriman dari Bandung via JNE, dan bisa membayar dengan transfer bank maupun go pay.

Sekian postinganku kali ini, sampai bertemu insyaallah di postingan selanjutnya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

#mulaimenulisdiblog 

 

 

 

 

 

Kamis, 08 Juni 2023

Review Omnibook "Jatuh Cinta Diam-Diam" - Dwitasari

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Selamat datang di Augina Putri's Blog. Kali ini aku akan mengulas buku yang termasuk omnibook. Apa itu omnibook? Singkatnya adalah kumpulan cerita yang memiliki satu benang merah. Nah buku ini berjudul Jatuh Cinta Diam-Diam. Berikut foto bukunya:


Buku Jatuh Cinta Diam-Diam merupakan omnibook atau buku yang di dalamnya terdapat kumpulan cerita memiliki satu benang merah. Benang merah dalam buku ini ya Jatuh Cinta Diam-Diam itu sendiri. Buku ini ditulis oleh Dwitasari dan diterbitkan PlotPoint Publishing (Kelompok Penerbit Bentang Pustaka). Buku punyaku ini cetakan bulan Maret tahun 2015. Menurut Goodreads, buku ini memiliki jumlah halaman sebanyak 217 halaman. 


Sampul Omnibook ini ilustrasinya bagus, memakai beragam gambar manusia dengan ekspresi diam, sedih, tenang, dan cukup menikmati dari jauh. Warna sampul bukunya merah muda atau pink, melambangkan perasaan jatuh cinta. Bentuk huruf pada judulnya juga bagus. Setiap babnya memiliki gambar ilustrasi yang berbeda-beda dan mewakili kisahnya. Penggunaan gaya bahasa Omnibook ini baku namun tidak kaku untuk narasinya sedangkan pada percakapan antar tokohnya menggunakkan bahasa gaul. Penulisannya cukup rapi, jarang ada saltik, perbedaan spasi, atau beda bentuk paragraf yang aneh. Omnibook ini diksinya bagus, pas lagi baca kisahnya tuh jleb banget perasaanku yang pernah mengalami perasaan seperti judul bukunya dan ya bagian uniknya adalah kutemukan namaku sendiri. Wkwkwk.


Blurb:

SETIAP ORANG PUNYA CARANYA SENDIRI UNTUK MENCINTAI

memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.

Setelah sukses dengan Raksasa Dari Jogja, Dwitasari kini mengumpulkan 14 kisah ini. Kisah tentang kebahagiaan mencintai dan kepedihan memendam cinta. Kisah tentang orang-orang yang menyimpan sebuah nama di hati mereka. Kisah yang akan membuat kita bertanya: apa halangan untuk nyatakan cinta? 


Beberapa kalimat yang aku suka dari omnibook ini adalah sebagai berikut: 

- "Apa yang lebih sakit daripada ditinggalkan seseorang yang paling kau sayang? Tentu saja ada. Ada yang lebih sakit daripada itu. Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang selalu bertumbuh itu tak pernah menyentuh dan menjamah." Dwitasari (2015, hal. 13)

- "Kadang, kesepian hanyalah soal perasaan, bukan kenyataan." Dwitasari (2015, hal. 40)

- "Ah, orang yang pernah membuatmu tertawa paling kencang adalah orang yang akan membuatmu menangis paling kencang." Dwitasari (2015, hal. 76)

- "Kamu hanya perlu memercayai kata hatimu, kadang yang terlihat belum tentu yang sesungguhnya terjadi." Dwitasari (2015, hal. 90)
- "Rasa ingin tahu ternyata bisa berevolusi jadi perasaan sayang, itu yang gue sadari selama ini." Dwitasari (2015, 149)

- "Ah, betapa melupakan sungguh sangat sulit, meskipun aku begitu yakin telah mengikhlaskan." Dwitasari (2015, hal. 162)

- "Terkadang kita harus meninggalkan sesuatu yang penting demi sesuatu yang jauh lebih penting." Dwitasari (2015, hal. 172)

- "Aku nggak mau berharap terlalu tinggi, kalau jatuh, pasti sakit banget." Dwitasari (2015, hal. 186)

- "Perempuan kadang tak berterus terang tentang apa yang ada dalam hatinya. Aku kira kamu memahami hal itu, ternyata nggak." Dwitasari (2015, hal. 209)


Buku ini kurekomendasikan untuk teman-teman onlineku yang menyukai genre fiksi romantis. Sekian postinganku kali ini, sampai bertemu insyaallah di postingan selanjutnya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

#mulaimenulisdiblog

Selasa, 16 Mei 2023

Review Novel Teenlit Confessions of a not it girl (Bukan Cewek Gaul) - Melissa Kantor

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Selamat datang di Augina Putri's Blog. Kali ini aku akan mengulas novel teenlit yang baru selesai kubaca ulang yaitu Bukan Cewek Gaul. Berikut foto bukunya: 


Novel teenlit Bukan Cewek Gaul ditulis oleh Melissa Kantor dan memiliki judul asli yaitu Confessions of a Not it Girl. Novel ini diterbitkan versi bahasa Indonesia oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2005. Aku membeli novel ini saat ada diskon besar-besaran begitu di Gramedia sekitar tahun 2008. Buku ini bergenre fiksi teenlit (untuk remaja) dan memiliki tebal 256 halaman. Novel ini tak terlalu tebal atau tipis, sedang saja menurutku. 


Sampul novel teenlit ini ilustrasinya bagus, menggambarkan tokoh utamanya yang anak sekolah di luar negeri (seragam bebas) dan memegang buku-buku pelajarannya. Penggunaan gaya bahasa hasil terjemahan buku ini cukup gaul dan sederhana sehingga cocok dibaca untuk remaja. Penulisannya juga cukup rapi, jarang ada saltik atau perbedaan spasi. 


Blurb: 

Jan Miller yakin hidupnya ditakdirkan nggak asyik banget. Orangtua Jan sering bersikap memalukan, Jan selalu naksir cowok di saat yang nggak tepat, dan formulir pendaftaran universitasnya berisi pertanyaan yang susah-susah banget. 

Beda banget dengan kehidupan sahabatnya, Rebecca, yang dinobatkan jadi Cewek Gaul versi majalah-majalah New York. Rebecca sangat cantik, sangat cerdas, dan cowok-cowok mengikutinya ke mana pun dia pergi. Jan heran kenapa Rebecca masih mau main dengannya, soalnya dia kan sama sekali bukan cewek gaul.

Tapi namanya sahabat, Rebecca setia menemani jatuh-bangun Jan menghadapi PR Prancis yang nggak selesai-selesai dan jadi penasihat cintanya. Termasuk saat Jan naksir berat pada Josh, cowok yang jadi Romeo ketika Jan jadi Juliet pada drama singkat dalam kelas bahasa Inggris-nya. Bisa nggak ya mereka jadi Romeo dan Juliet sungguhan di dunia nyata? 


Aku merasa cukup berhubungan dengan cerita di novel ini karena kisah di kelas bahasa Inggrisnya mirip denganku tapi di masa SMP dan bukan drama meskipun ya akhirnya tidak sama. Sedangkan Jan ini anak SMA. Kurasa novel ini memiliki trigger untuk teman-teman online yang punya sifat Squeamish, Philophobia, dan Philemaphobia. Saat membaca novel ini aku cukup suka dengan skenario halu yang sering dibuat oleh Jan dan persahabatannya dengan Rebecca.

Beberapa kalimat yang aku suka dari novel ini adalah sebagai berikut: 

- "Aku tak akan memikirkannya. Kenyataan kadang bisa jadi sangat menyakitkan." Kantor (2005, hal. 58)

- "Tak ada yang terjadi. Sepertinya saat kau naksir seseorang, kau berubah menjadi lumpuh." Jan (Kantor, 2005, hal. 73)

- "Biarkan pria mendekatimu atau mereka akan mengira kau wanita yang putus asa," Kantor (2005, hal. 82)

- "Cowok lebih muda lebih punya banyak hal yang bisa ditawarkan," Rebecca (Kantor, 2005, hal. 221)

- "Kau tahu, hak istimewa dari seorangwanita adalah mengubah pikiran mereka." Rebecca (Kantor, 2005, hal. 221)

- "Aku harus mengakui Rebecca benar. Cowok memang kelihatan lebih ganteng dengan tuksedo." Jan (Kantor, 2005, hal. 224)


Novel ini kurekomendasikan untuk teman-teman online yang menyukai genre fiksi teenlit. Saat ini bukunya sedang kujual karena rak bukuku sudah sangat penuh dan ingin mengurangi jumlah barang yang ada di kamarku. Harga bukunya 20 ribu belum termasuk ongkos kirim. Pengiriman bukunya via JNE dari Bandung dan dapat dibayar dengan transfer bank atau Go Pay. Kalau tertarik beli, bisa chat ke Instagramku @nadya_donna. 


Sekian postingan kali ini. Sampai bertemu di postingan selanjutnya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

#mulaimenulisdiblog